Langsung ke konten
Haluan kapal-kapal pinisi kayu yang bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta

Pelabuhan Sunda Kelapa

Kapal layar kayu di dermaga tempat Jakarta bermula

Sunda Kelapa adalah tempat Jakarta bermula: pelabuhan di muara Sungai Ciliwung yang melayani Kerajaan Sunda yang bercorak Hindu, direbut dan dinamai Jayakarta pada 1527, lalu menjadi pelabuhan Batavia Belanda seabad kemudian. Kapal peti kemas besar kini memakai Tanjung Priok di timur, tetapi pelabuhan lama ini masih bekerja.

Yang Anda datangi adalah pinisi — kapal kargo kayu berhaluan tinggi, rancangan yang lekat dengan pelaut Bugis dan Makassar dari Sulawesi — yang bersandar dengan haluan menghadap dermaga dalam deretan panjang. Kuli memanggul karung semen, kayu, dan tepung menaiki titian sempit dengan tangan, tujuan Kalimantan, Sumatra, dan lebih jauh lagi. Ini salah satu tempat terakhir yang seperti ini.

Hal terbaik untuk dilakukan di Pelabuhan Sunda Kelapa

Susuri dermaga

Dermaganya membentang lebih dari satu kilometer. Berjalanlah sejauh Anda suka di antara truk dan kuli sambil memotret lambung kapal yang dicat. Awak kapal umumnya ramah; minta izin sebelum menapaki titian, dan jangan menghalangi bongkar muat.

Naik perahu dayung keliling pelabuhan

Tukang perahu di tepi dermaga menawarkan perjalanan singkat dengan perahu kayu kecil yang melintas di bawah haluan kapal-kapal pinisi — sudut terbaik untuk memotret. Sepakati harga dan lamanya sebelum naik. Beberapa tur kota menyertakan perjalanan ini.

Kunjungi Museum Bahari

Beberapa menit berjalan kaki, Museum Bahari menempati gudang VOC yang dibangun sejak pertengahan abad ketujuh belas untuk menyimpan rempah, kopi, dan teh. Di dalamnya ada perahu tradisional dari seluruh Nusantara dan pameran tentang sejarah bahari Indonesia. Sebagian kompleks rusak akibat kebakaran pada 2018 dan telah dipugar.

Naik ke Menara Syahbandar

Menara Syahbandar dari 1839, di samping museum, dulu mengawasi kapal yang masuk pelabuhan. Menara ini tampak jelas miring dan menyuguhkan pemandangan gudang-gudang lama serta kawasan pasar ikan.

Kapal layar kayu di Sunda Kelapa dalam cahaya senjaGudang-gudang putih panjang Museum Bahari

Cara menuju Pelabuhan Sunda Kelapa

  • Dari Kota Tua: sekitar 1,5 km di utara Taman Fatahillah — 20–25 menit berjalan kaki menyusuri kanal (panas dan trotoarnya tidak merata), atau beberapa menit dengan bajaj, ojek, atau mobil transportasi daring.
  • Dengan TransJakarta / kereta: ke Stasiun Kota dulu, lalu lanjut seperti di atas.
  • Dengan tur: pelabuhan ini termasuk dalam sebagian besar tur keliling sehari penuh dan semua tur kota tua.

Tips orang dalam

  • Ada retribusi kecil di gerbang pelabuhan, dibayar tunai.
  • Datanglah sebelum pukul 09.00 atau setelah pukul 16.00. Tidak ada tempat berteduh di dermaga dan betonnya memantulkan panas.
  • Kenakan sepatu tertutup: tanahnya berdebu, tidak rata, dan ramai truk.
  • Ini tempat kerja, bukan pameran — bersikaplah santun dengan kamera dan sabar dengan lalu lintas.

Tur & tiket terbaik untuk Pelabuhan Sunda Kelapa

Pengalaman dengan ulasan terbaik ini adalah cara termudah mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa:

Ketersediaan terkini: tur di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa

Powered by GetYourGuide
Rencanakan hari-hari Anda di Jakarta

Jadikan persinggahan di Jakarta salah satu puncak perjalanan Anda di Indonesia

Naik lift ke puncak Monas, berjalan dari Masjid Istiqlal ke Katedral, berburu kuliner di Glodok dan Blok M, lalu kabur ke Kepulauan Seribu atau kebun teh di sekitar Bandung. Bandingkan pengalaman dengan ulasan terbaik dan pesan dalam beberapa ketukan.

Perlu diketahui

Tanya jawab Pelabuhan Sunda Kelapa

Pertanyaan yang sering diajukan

Sunda Kelapa terkenal karena apa?

Inilah pelabuhan asli Jakarta dan masih dipakai kapal pinisi kayu tradisional yang mengangkut muatan antarpulau di Indonesia.

Amankah mengunjungi Sunda Kelapa?

Ya, pada siang hari. Waspadai truk yang bergerak dan tanah yang tidak rata, serta jaga barang berharga.

Berapa lama waktu yang perlu disediakan?

Sekitar satu jam untuk dermaga, atau dua jam dengan Museum Bahari dan menara.

Bisakah naik ke kapal?

Hanya jika awak mengundang Anda. Titiannya sempit dan curam, jadi berhati-hatilah.