Kota Tua adalah yang tersisa dari Batavia, kota pelabuhan bertembok yang dibangun VOC sejak 1619 sebagai ibu kota imperium dagangnya di Asia. Jantungnya adalah Taman Fatahillah, plaza berbatu di depan bekas balai kota, dikelilingi gedung-gedung kolonial yang kini menjadi museum dan kafe.
Setelah puluhan tahun terbengkalai, kawasan ini terus dipugar. Jalan-jalan di sekitar alun-alun ditutup bagi kendaraan, ada pengamen dan manusia patung, dan Anda bisa menyewa sepeda berwarna pastel lengkap dengan topi senada. Suasananya turistik dalam arti yang menyenangkan: sebagian besar turisnya orang Indonesia.
Hal terbaik untuk dilakukan di Kota Tua (Batavia Lama)
Kunjungi Museum Sejarah Jakarta
Bekas Stadhuis, yang rampung pada 1710, dulu adalah balai kota, pengadilan, dan — di ruang bawah tanahnya — penjara Batavia. Kini gedung ini memamerkan mebel, peta, dan peninggalan kota kolonial. Gedungnya sendiri, dengan jendela berdaun kayu dan kubah kecilnya, adalah koleksi utamanya.
Lihat Museum Wayang
Di sisi barat alun-alun, koleksi wayang Indonesia: wayang kulit pipih dari kulit, wayang golek kayu berukir, dan boneka dari negara lain. Pertunjukan singkat kadang digelar pada akhir pekan.
Minum di Café Batavia
Alamat paling terkenal di alun-alun ini menempati gedung abad kesembilan belas dengan ruang makan lantai atas berpanel jati, dinding penuh foto berbingkai, dan jendela yang menghadap ke plaza. Lebih mahal daripada warung di jalan, dan sepadan demi ruangannya.
Jelajahi gedung bank dan kanal
Dua bekas kantor pusat bank yang megah di dekat stasiun kini menjadi Museum Bank Indonesia dan Museum Mandiri, keduanya ber-AC dan ternyata menarik. Di utara alun-alun, susuri kanal Kali Besar melewati Toko Merah (1730) berbata merah hingga jembatan jungkit Belanda lama, Jembatan Kota Intan.
Lanjut ke pelabuhan atau Pecinan
Sunda Kelapa sekitar 1,5 km di utara dan Glodok sekitar 1 km di selatan. Tur kota tua berpemandu merangkai ketiganya, sering dengan naik bajaj roda tiga sebentar.

Cara menuju Kota Tua (Batavia Lama)
- Dengan TransJakarta: Koridor 1 dari Blok M, Sudirman, dan Thamrin berakhir di Kota, beberapa menit berjalan kaki dari alun-alun.
- Dengan KRL: kereta berakhir di Stasiun Jakarta Kota, gedung art deco yang apik dari 1929, 300 meter dari alun-alun.
- Dengan MRT: belum — perpanjangan ke utara menuju Kota sedang dibangun.
- Dengan taksi atau transportasi daring: 20–45 menit dari Thamrin tergantung lalu lintas; sebut “Kota Tua” atau “Museum Fatahillah”.
Tips orang dalam
- Museum di sekitar alun-alun biasanya tutup hari Senin dan memungut tiket masuk kecil, umumnya dibayar dengan kartu prabayar.
- Datanglah mulai sekitar pukul 15.00: cahayanya lebih lembut, alun-alun mulai ramai, dan panas mereda. Tengah hari sangat menyengat.
- Akhir pekan meriah tetapi padat; pagi hari kerja sepi.
- Awasi ponsel dan tas di keramaian, dan sepakati harga sewa sepeda sebelum mengayuh.
Tur & tiket terbaik untuk Kota Tua (Batavia Lama)
Pengalaman dengan ulasan terbaik ini adalah cara termudah mengunjungi Kota Tua (Batavia Lama):
Tur pusaka privat mulai €54 Tur Kota Jakarta dengan Warisan Batavia Lama dan Museum
Tur privat di utara: kota tua dan museum sejarahnya, Glodok, sanggar wayang, dan Sunda Kelapa, dengan naik bajaj roda tiga sebentar.
- Kota Tua, Pecinan, dan pelabuhan lama
- Sanggar wayang dan Museum Fatahillah
- Naik bajaj sebentar
Tur kota mulai €41 Jakarta: Tur Keliling Kota Setengah Hari
Lima jam yang efisien: monumen-monumen di pusat kota, gedung-gedung Batavia lama, melihat cara wayang dibuat, dan berakhir di antara kapal-kapal pinisi Sunda Kelapa.
- Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, dan Katedral
- Gedung-gedung Batavia lama dan perajin wayang
- Berakhir di Pelabuhan Sunda Kelapa
Tur kota mulai €57 Jakarta: Sorotan Ibu Kota dengan Tur Perahu Kanal
Tur enam jam yang mempertemukan kota modern dengan Jakarta lama dan menambahkan perjalanan perahu — sudut pandang berbeda atas ibu kota, dengan makan sudah termasuk.
- Jakarta modern dan bagian lama kota
- Naik perahu untuk sudut pandang lokal
- Termasuk makan siang; privat atau grup kecil




