Langsung ke konten
Gedung-gedung tinggi pusat Jakarta menjulang di atas permukiman rendah

Panduan Wisata Jakarta

Sejarah, kawasan, kuliner, hal praktis, dan rencana perjalanan untuk ibu kota Indonesia — di satu tempat.

Jakarta terletak di pesisir barat laut Jawa, tempat Sungai Ciliwung bertemu Laut Jawa. Kotanya sendiri berpenduduk sekitar sebelas juta jiwa; kawasan perkotaan yang lebih luas — Jakarta ditambah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, dikenal sebagai Jabodetabek — dihuni lebih dari tiga puluh juta jiwa, menjadikannya salah satu kawasan perkotaan terbesar di bumi.

Sejarah yang sangat singkat

Kisahnya bermula di Sunda Kelapa, pelabuhan lada Kerajaan Sunda yang bercorak Hindu. Pada 1527 pelabuhan itu direbut pasukan pimpinan Fatahillah dan dinamai Jayakarta; kota ini masih merayakan hari jadinya setiap 22 Juni. Pada 1619, VOC di bawah Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta dan membangun Batavia, kota berkanal dan bertembok yang menjadi markas dagangnya di Asia — kini Kota Tua. Pendudukan Jepang pada 1942 membawa nama Jakarta, dan pada 17 Agustus 1945 Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di sini.

Sukarno lalu memberi ibu kota baru itu monumen-monumen yang sepadan: Monas, Masjid Istiqlal, Bundaran Hotel Indonesia dengan Patung Selamat Datang, dan Stadion Gelora Bung Karno yang dibangun untuk Asian Games 1962.

Apakah Jakarta masih ibu kota? Indonesia sedang membangun ibu kota administratif baru, Nusantara, di Kalimantan Timur, dan undang-undang telah menetapkan ulang Jakarta sebagai daerah khusus. Pemindahannya bertahap dan jadwalnya sudah lebih dari sekali direvisi, jadi ikuti berita terkini jika hal ini penting bagi Anda. Bagi wisatawan, jawaban praktisnya sederhana: Jakarta tetap kota terbesar, pintu gerbang utama, dan pusat niaga Indonesia.

Memahami kawasan-kawasannya

KawasanKarakterDatang untuk
Lapangan Merdeka & GambirMonumental, pemerintahanMonas, Museum Nasional, Istiqlal, Katedral
Thamrin & MentengPusat, rindang, berkelasMal di Bundaran HI, kuliner Jalan Sabang, vila kolonial
Sudirman, SCBD & SenopatiMenara kaca, restoranFine dining, bar atap, kelab, Pacific Place
Blok M & KemangJakarta Selatan, anak mudaKuliner kaki lima, Little Tokyo, kafe, musik live
Kota Tua & GlodokKota lama kolonial dan TionghoaMuseum, kelenteng, pasar, pelabuhan
Ancol & PIKPesisir utara hasil reklamasiTaman hiburan, seafood, kuliner tepi laut, kapal ke pulau
Pemandangan udara Monumen Nasional (Monas) dan Lapangan Merdeka di pusat Jakarta Jakarta Pusat

Monas (Monumen Nasional)

Tugu setinggi 132 meter di jantung ibu kota

Tugu marmer bermahkota lidah api berlapis emas yang berdiri di tengah Lapangan Merdeka. Naiklah lift ke pelataran puncak untuk pemandangan kota terbaik, lalu kunjungi diorama sejarah di bagian dasarnya.

Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta bermandi cahaya saat senja, dilihat dari atas Jakarta Pusat

Masjid Istiqlal & Katedral Jakarta

Masjid terbesar di Asia Tenggara, berhadapan dengan katedral neo-Gotik

Masjid nasional dan katedral Katolik berdiri berseberangan di satu ruas jalan, dan sejak 2021 dihubungkan oleh “Terowongan Silaturahmi” di bawah tanah. Bersama-sama, keduanya menjadi persinggahan paling bermakna di kota ini — dan keduanya menyambut pengunjung.

Bekas Balai Kota Batavia, kini Museum Sejarah Jakarta, di Taman Fatahillah Batavia Lama & pesisir utara

Kota Tua (Batavia Lama)

Kota milik VOC, di sekitar Taman Fatahillah

Kota lama Jakarta: alun-alun berbatu yang dikelilingi bekas balai kota, museum dalam gedung kolonial, Café Batavia, dan deretan sepeda sewaan bercat cerah. Sudut kota yang paling enak dijelajahi dengan berjalan kaki dan paling fotogenik.

Apa yang dilihat

Tiap tempat utama punya halaman sendiri di bagian destinasi. Singkatnya: mulai dari Monas dan Museum Nasional; berjalanlah di antara Masjid Istiqlal dan Katedral; sisihkan setengah hari untuk Kota Tua dan setengah hari lagi untuk Glodok dan Sunda Kelapa. Keluarga menuju Ancol, Taman Mini, dan Ragunan; untuk budaya Betawi, datanglah ke Setu Babakan.

Apa yang dimakan

Jakarta adalah tempat semua masakan daerah Indonesia datang bersaing, di samping masakan Betawi milik kota ini sendiri. Yang patut dicari:

  • Nasi goreng: paling nikmat dari gerobak malam. Versi daging kambing (nasi goreng kambing) di Kebon Sirih adalah ikon kota.
  • Sate: tusukan ayam atau kambing yang dibakar arang dengan bumbu kacang atau kecap. Jalan Sabang dipenuhi asap sate selepas gelap.
  • Soto Betawi: sup daging sapi khas kota ini, gurih dengan santan atau susu, disajikan dengan nasi, jeruk nipis, dan emping.
  • Kerak telor: telur dadar renyah dari beras ketan dan telur dengan serundeng dan bawang goreng, dimasak di atas arang — dijual di sekitar Monas, Kota Tua, dan Setu Babakan.
  • Gado-gado dan ketoprak: sayuran, tahu, dan lontong berbumbu kacang; pilihan vegetarian yang baik.
  • Nasi uduk, bubur ayam, martabak: nasi santan untuk sarapan, bubur ayam di pagi hari, martabak di malam hari.
  • Bir pletok: meski namanya begitu, ini minuman Betawi tanpa alkohol dari jahe dan rempah.
Semangkuk soto Betawi dengan emping
Soto Betawi, sup daging sapi Jakarta yang gurih.

Jika ragu dengan warung kaki lima, santaplah hidangan yang sama di pujasera mal atau di restoran yang sudah lama berdiri — atau ikut tur kuliner berpemandu, cara tercepat mengenal aneka hidangannya. Pilih warung yang ramai, makan makanan yang dimasak saat dipesan, dan minumlah air kemasan atau air yang disaring.

Tempat makan dan nongkrong

  • Jalan Sabang (dekat Thamrin): deretan kuliner kaki lima klasik di pusat kota.
  • Blok M: warung makan, bar dan restoran Jepang di Little Tokyo sekitar Melawai, serta ruang kreatif seperti M Bloc. Dilalui MRT.
  • Glodok: sarapan dan kopi ala Tionghoa-Indonesia di gang-gang Pecinan.
  • Senopati dan Gunawarman: jalan restoran paling bergengsi di kota, bersebelahan dengan SCBD.
  • SCBD: bar atap dan kelab malam besar.
  • Kemang: kawasan ekspatriat lama dengan kafe, bar, dan galeri.
  • PIK (Pantai Indah Kapuk): promenade tepi laut, seafood, dan kawasan kuliner bergaya Pecinan yang baru dibangun di pesisir utara, dekat bandara.

Alkohol legal dan banyak disajikan di hotel, bar, dan banyak restoran, meski dikenai pajak tinggi dan tidak tersedia di warung makan sederhana.

Sepiring nasi goreng kambing
Nasi goreng kambing Kebon Sirih.

Belanja

Mal adalah alun-alun Jakarta: ber-AC, penuh restoran enak, dan buka sampai malam. Grand Indonesia dan Plaza Indonesia saling berhadapan di Bundaran HI; Plaza Senayan, Senayan City, dan Pacific Place melayani selatan. Sarinah di Thamrin, pusat perbelanjaan pertama di negeri ini, telah direnovasi dan memamerkan kerajinan serta batik Indonesia. Untuk yang kurang mengilap, coba lorong-lorong grosir tekstil Tanah Abang, lapak barang antik Jalan Surabaya di Menteng, atau jalan belanja lama Pasar Baru.

Uang

  • Mata uangnya rupiah (IDR). ATM ada di mana-mana dan sebagian besar menerima kartu asing.
  • Kartu diterima di mal, hotel, dan restoran besar; bawa uang tunai untuk warung, toko kecil, dan sebagian tiket masuk.
  • Pembayaran QR (QRIS) ada di mana-mana. Beberapa aplikasi bank dan dompet digital asing kini bisa memindainya — tanyakan ke penyedia Anda.
  • Tagihan restoran sering menambahkan pajak dan biaya layanan. Tip di luar itu dihargai tetapi tidak diharapkan; membulatkan ongkos untuk pengemudi itu lumrah.

Keamanan dan kesehatan

  • Jakarta umumnya aman bagi pengunjung. Risiko sehari-harinya adalah lalu lintas, trotoar tidak rata, dan pencurian oportunistis — jauhkan ponsel dan tas dari sisi jalan.
  • Jangan minum air keran. Air kemasan murah dan hotel menyediakannya.
  • Kualitas udara sering buruk, terutama pada musim kemarau. Jika Anda sensitif, pantau aplikasi kualitas udara dan bawa masker yang pas.
  • Hujan lebat bisa membanjiri kawasan rendah antara sekitar Desember dan Februari; lihat waktu berkunjung.
  • Unjuk rasa sesekali berlangsung di sekitar gedung pemerintahan dan Lapangan Merdeka. Biasanya damai, tetapi sebaiknya dihindari.
  • Bawalah asuransi perjalanan. Rumah sakit swasta berstandar internasional tersedia di kota ini.

Etiket dan pakaian

Jakarta adalah kota berpenduduk mayoritas Muslim sekaligus kosmopolitan. Pakaian tipis dan longgar yang menutup bahu dan lutut adalah pilihan nyaman dan wajib di masjid serta kelenteng; mal dan restoran ber-AC sangat dingin, jadi bawa lapisan tambahan. Lepas alas kaki di tempat orang lain melakukannya, gunakan tangan kanan untuk memberi dan menerima, dan minta izin sebelum memotret orang. Bahasa Indonesia adalah bahasa pergaulan; bahasa Inggris banyak dipahami di hotel, mal, dan oleh anak muda, kurang oleh pedagang kaki lima dan pengemudi.

Hal praktis

  • Zona waktu: Waktu Indonesia Barat (WIB), UTC+7.
  • Listrik: 230 V, steker dua pin bulat (tipe C dan F).
  • Data seluler: kartu SIM turis dan eSIM dijual di bandara dan mal; Anda akan butuh data untuk aplikasi transportasi daring.
  • Hari buka: sebagian besar museum milik pemerintah kota tutup hari Senin.

Saran rencana perjalanan

Satu hari

Monas saat buka, Museum Nasional, makan siang di Jalan Sabang, lalu Masjid Istiqlal dan Katedral. Naik TransJakarta ke utara untuk Kota Tua di sore hari dan tinggallah untuk makan malam di Café Batavia atau di Glodok.

Tiga hari

Hari pertama seperti di atas, tanpa terburu-buru ke utara. Hari kedua: museum-museum Kota Tua, kelenteng dan pasar Glodok, Sunda Kelapa saat cahaya keemasan. Hari ketiga: sehari di luar kota — Kepulauan Seribu, Bogor, atau Bandung — dan malam di Blok M atau SCBD.

Bersama anak

Tukar satu museum dengan taman hiburan Ancol, kereta gantung dan rumah adat Taman Mini, atau Ragunan — dan pertimbangkan Taman Safari di perbukitan Puncak sebagai wisata sehari.

Ketersediaan terkini: pengalaman terbaik di Jakarta

Powered by GetYourGuide
Rencanakan hari-hari Anda di Jakarta

Jadikan persinggahan di Jakarta salah satu puncak perjalanan Anda di Indonesia

Naik lift ke puncak Monas, berjalan dari Masjid Istiqlal ke Katedral, berburu kuliner di Glodok dan Blok M, lalu kabur ke Kepulauan Seribu atau kebun teh di sekitar Bandung. Bandingkan pengalaman dengan ulasan terbaik dan pesan dalam beberapa ketukan.

Perlu diketahui

Wisata Jakarta: tanya jawab

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah Jakarta aman bagi wisatawan?

Umumnya ya. Kejahatan dengan kekerasan terhadap pengunjung jarang terjadi. Waspadai lalu lintas, jaga barang berharga di keramaian, gunakan taksi berbasis aplikasi atau yang tepercaya, dan hindari unjuk rasa politik.

Bisakah minum alkohol di Jakarta?

Bisa. Bar, hotel, dan banyak restoran menyajikan alkohol, terutama di SCBD, Senopati, Kemang, dan Blok M. Harganya relatif mahal dan tidak dijual di warung makan sederhana.

Pakaian apa yang sebaiknya saya kenakan?

Pakaian tipis yang menutup bahu dan lutut cocok di mana saja dan wajib di tempat ibadah. Bawa lapisan untuk ruangan ber-AC dan sepatu yang tahan trotoar tidak rata serta hujan.

Amankah makan makanan kaki lima?

Jutaan orang menyantapnya setiap hari. Pilih warung yang ramai, pilih hidangan yang dimasak segar di depan Anda, berhati-hatilah dengan es dan sayuran mentah jika perut Anda sensitif, dan pertimbangkan tur kuliner berpemandu untuk percobaan pertama.

Apakah orang-orang berbahasa Inggris?

Di hotel, mal, tempat wisata, dan di kalangan anak muda Jakarta, biasanya ya. Dengan pengemudi dan pedagang kaki lima, aplikasi penerjemah dan beberapa kata bahasa Indonesia sangat membantu.